Friday, December 30, 2005

Kesaksian Tragis

Ini ada kiriman kisah nyata dari seseorang yang tak mau disebut namanya. Kisah ini sangat menyentuh dasar hati kita sebagai manusia. Kekejaman manusia atas nama hukum dan keadilan ataupun keserakahan ternyata lebih biadab tiada ampun. Beruntunglah kita mempunyai Tuhan yang Maha pengampun. Apabila kita mengaku akan segala kesalahan kita dan bertobat tentu Dia akan mengampuni kita. Dari kisah ini saya berharap dapat menjadi refleksi kita bersama dan bisa kita ambil hikmahnya. Semoga Tuhan memberi belas kasihan dan mengampuni si gadis ini. Amin

25 tahun yang lalu.

Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami sederhana, ingin hidup bahagia.

22 tahun yang lalu.

Pekerjaanku tidak begitu elit tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.

19 tahun yang lalu.

Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak "Horeee, Iya bisa terbang". Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah. Dan Kania tak jarang berteriak, "Iya sayaaang", jika sudah terdengar suara "Prang". Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca. Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang "Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?"

18 tahun yang lalu.

Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya. "Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola !". Tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu. "Horee, Iya jadi pemain bola."

17 Tahun yang lalu.

Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang aku tahu, hari itu hari Sabtu dan aku akan menjemputnya dari sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan "Iyaaaa". Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata coba kalau kamu tak belikan ia bola !"

15 tahun yang lalu.

Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah. Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari kerja ke luar negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.

13 tahun yang lalu.

Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya. Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.

10 tahun yang lalu.

Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya. "Biar cantik kalo kere ya kelaut aje". Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga.

"Sabar ya, Nak!" hiburku. "Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu! ",pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.

7 tahun yang lalu.

Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia. Sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP. Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.

4 tahun lalu.

Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di sana. Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu. Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.

3 tahun 6 bulan yang lalu.

Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia, kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.

2 tahun 6 bulan yang lalu.

Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah. Dan dia harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan aku. Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia. Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.

"Bapak, Iya Takut!" aku memeluknya lebih erat lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya. "Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?". "Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan, Pak !". Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat. Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon pengampunan hukuman pada wanita itu.

2 tahun yang lalu.

Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya. Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang diinjak anakku. Dan 'blass" Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis. Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis. Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis wajah yang kukenal.

"Kania?"

"Mas Har, kau!"

"Kau ... kau bunuh anakmu sendiri, Kania!"

"Iya? Dia..dia .. Iya?", serunya getir menunjuk jenazah anakku.

"Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar"

"Tidak ... tidaaak ... " Kania berlari ke arah jenazah anakku. Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya "Terima kasih Mama". Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.

Setahun lalu.

Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku. Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila. Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak, "Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak". Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku. Mungkin orang tua kita memang benar, tak seharusnya kita menikah. Agar tak ada kesengsaraan untuk Kamila anak kita. Benarkah begitu Iya sayang?

Sumber : TRUE STORY

Sunday, December 25, 2005

My Brother


Herryalmas. We call him Eri. He was born on Christmas day 25th of December. In a way the whole world celebrating his birthday J. He’s the tallest one in my family. He has a kind heart but a little bit emotional. It’s easy for him to become angry or being upset. But I think after getting married and have a handsome son he becomes calmer.

He’s working in a cruise. I haven’t seen him for long time and now on his birthday I feel longing for him. We’re very close. He always tells me everything and comes to me if he has a problem. I’m sure he feels lonely right now especially on his birthday. Far away from people he loved dearly. I know exactly how he feels coz I’m no different with him. Live away from my beloved country but at least I have a loving husband and my two sweet daughters with me.

Happy birthday dear bro. Even you’re not around you will always on our mind and heart. Be patient and be strong. Time will fly fast and soon you’ll be home.

Thursday, December 15, 2005

Wedding Anniversary

Today is the 3rd anniversary of my marriage, something that I considered as one of many important days in my life. I wanted to make this day special because today 3 years ago I started my new life as somebody’s wife. I made a nice dinner and a simple cheese cake to celebrate it. But nothing special happened since my husband didn’t remember that today is our wedding anniversary. I thought he would have noticed it when I said that I will make a cake today since I don’t make it often. I’m not good in making a cake anyway. Only after I gave him a letter about my feeling and congratulated our wedding anniversary he realized it. He said unlike women men don’t remember such thing. Is it true or he just making an excuse of his neglecting and ignorant? Should I feel sad? At least he said thank you and later at night he said he loves me and that I’m a good mother to our daughters. I just hope next year he will remember my birthday and our wedding anniversary and surpise me with something that I never experience before.

Sunday, December 11, 2005

Why ???

Why people have a secret? Is it necessary? Why people lie? Because they want to hide the truth or because they embarrase of what they have done. Why they embarrase? It’s because they have done something stupid. Why they do that? It’s because they have no brain or because they have no faith or iman. It’s just as simple as that.

Friday, December 09, 2005

Funny Pictures



What do you think of those pictures ?

Tuesday, December 06, 2005

"Dad, read it out loud, please ..."

One evening Budi, a successful executive, was busy as usual with the paper works he brought home from office, coz there will be a very important general meeting with the shareholders the next morning. When he was reading through those office documents, his daughter Jessica came closer, stood right beside him, holding a new storybook.
The cover of the book was a cute little angel, which attracted Jessica’s attention. “Dad, look!” Jessica was trying to attract her dad’s attention. Budi glanced over his glasses and looked at her. The sentence came out was only “Wow, a new book, Jessica?”

“Yes, daddy” Jessica said cheerfully. “Read it for me, please,“ asked Jessica softly.
”I’m very busy right now,” said Budi quickly. Then he turned back his attention to the papers in front of him. Jessica stood silently but she didn’t give up. With soft and whining voice she said again “Dad, mom said, you must read for me.”
Budi started to feel irritated, “Jessica, daddy is very busy now, ask your mom to read it, okay?”
“But mom is always busy. Look dad, the pictures are cute.”

“Next time Jessica. Go away! Daddy has many things to do!” Budi tried to concentrate his attention to those papers works. Minutes passed, Jessica took a deep breath and remained still where she was standing with hope, and then she started again.
“Dad .., the pictures are nice. You must be like it.”
“Jessica, daddy said, next time!!” Budi scolded her.

This time Budi succeeded in making the spirit of little Jessica gone. Almost crying, with tears in her eyes, she walked away. “Yes dad, next time.” Before going she came closer to her daddy and while touching his hands gently, she put the story book in her dad’s lap. “Dad, if you have time, read it out loud please, so I can hear it.”

Day by day passed, and two weeks had already gone, but still he didn’t fulfil the request from little Jessica. The story book of a cute angel, he never got around to read for her. Until one afternoon there was a very hard noise “Bang ..!!”

A few neighbours hysterically informing him that little Jessica had an accident. A drunken man driving his car at a high speed crashed into her in front of the house. Jessica’s body was thrown a few meters. The ambulance came as soon as possible. On the way to the hospital, little Jessica said in a whisper “I’m afraid daddy, I’m afraid mommy, Jessi loves mom and dad.” Blood kept coming out from her mouth and she died when they arrived at the hospital.

What had happened that day really shocked Budi’s heart. No time anymore to fulfil the promise. What was left now is only regret. He couldn’t fulfil a very simple request from his sweetheart. Still fresh in his memory, his daughter’s little hand, begging him to read a story for her. That touch feels so meaningful now, “ … dad, read it out loud please, so Jessica can hear it …” he could still hear what Jessica has said in his mind.

One afternoon, again left with only the silence of his heart. He will never again hear the laughing of little Jessica. Budi started to open the storybook of a cute angel which he took from a bunch of Jessica’s toys in the corner of her room. The book was not new anymore. Its cover was torn away. Some unmeaning writing decorated the pages like a sweet memories from little Jessica. Budi strengthen his heart, with tears in his eyes he opened the first page and read it out loud. He tried hard to read it loud. He kept reading it loud, page by page, with tears rolling down his cheek. “Jessica, listen, daddy is reading it for you …”

After reading a few more words, he begged again, ”Jessica, please forgive daddy. Daddy loves you …” As if every word in the book cut into his heart. The pain in his hart was unbearable, Budi kneeled and cried . . . begged for one more chance to learn how to love.
Original Title : "Papa, baca yang keras ya..." (Suara Merdeka Cyber News)
Translated by : Tablaa

Friday, December 02, 2005

Files

In that place between wakefulness and dreams, I found myself in a room. There were no distinguishing features save for the one wall covered with small index card files. They were like the ones in libraries that list titles by author or subject in alphabetical order. But these files, which stretched from floor to ceiling and seemingly endlessly in either direction, had very different headings. As I drew near the wall of files, the first to catch my attention was one that read “People I Have Liked.” I opened it and began flipping through the cards. I quickly shut it, shocked to realize that I recognized the names written on each one.

And then without being told, I knew exactly where I was.

This lifeless room with its small files was a crude catalogue system for my life. Here were written the actions of my every moment, big and small, in a detail my memory could not match. A sense of wonder and curiosity, coupled with horror, stirred within me as I began randomly opening files and exploring their content. Some brought joy and sweet memories, other a sense of shame and regret so intense that I would look over my shoulder to see if anyone was watching.

A file named “Friends” was next to one marked “Friends I Have Betrayed.” The titles ranged from the mundane to the outright weird. “Books I Have Read,” “Lies I Have Told,” “Comfort I Have Given,” “Jokes I Have Laughed At.”

Some were almost hilarious in their exactness: “Things I’ve Yelled at My Brothers.”

Others I couldn’t laugh at: “Things I Have Done in My Anger,” “Things I Have Muttered Under My Breath at My Parents.” I never ceased to be surprised by the contents. Often there were many more cards than I expected. Sometimes fewer than I hoped.

I was overwhelmed by the sheer volume of the life I had lived. Could it be possible that I had the time in my 30 years to write each of these thousands or even millions of cards? But each card confirmed this truth. Each was written in my own handwriting. Each signed with my signature.

When I pulled out the file marked “Songs I Have Listened To,” I realized the files grew to contain their contents. The cards were packed tightly and yet after two or three yards, I hadn’t found the end of the file. I shut it, shamed, not so much by the quality of music, but more by the vast amount of time I knew that file represented.

When I came to a file marked “Lustful Thoughts,” I felt a chill run through my body. I pulled the file out only an inch, not willing to test its size, and drew out a card. I shuddered at its detailed content. I felt sick to think that such a moment had been recorded.

An almost animal rage broke on me. One thought dominated my mind: “No one must ever see these cards! No one must ever see this room! I have to destroy them!”

In an insane frenzy I yanked the file out. Its size didn’t matter now. I had to empty it and burn the cards. But as I took it at one end and began pounding it on the floor, I could not dislodge a single card. I became desperate and pulled out a card, only to find it as strong as steel when I tried to tear it. Defeated and utterly helpless, I returned the file to its slot. Leaning my forehead against the wall, I let out a long, self-pitying sigh.

And then I saw it.

The title bore “People that I Have Taught about Allah”. The handle was brighter than those around it, newer, almost unused. I pulled on its handle and a small box not more than three inches long fell into my hands. I could count the cards it contained on one hand.

And then the tears came. I began to weep. Sob so deep that the hurt started in my stomach and shook through me. I fell on my knees and cried. I cried out of shame, from the over-whelming shame of it all. The rows of file shelves swirled in my tear-filled eyes. No one must ever, ever know of this room.

I must lock it up and hide the key.